Love From My Heart Oleh: Endik Koeswoyo (Bag 1)

Diposkan oleh den_holic on Senin, 05 Desember 2011

Penjelasan :
Berikut adalah novel karya Endik Koeswoyo yang saya copas ke dalam blog ini. Pemuatan e-novel ini hanya untuk menjadi renungan bagi sobat pemimpi sekalian. Karena yang bermimpi pun telah mendapat pelajaran dari novel ini.

cc: http://endikkoeswoyo.blogspot.com
http://endikpenulis.multiply.com

SATU

      Angin pagi yang datang menggetarkan sendi-sendi yang tersikap dari balik selimut tipis. Pagi yang cukup cerah walau hanya bertahan beberapa menit saja. Sebentar lagi pasti akan berganti dengan udara pengap dan deru kendaraan bermesin yang sangat mengganggu. Belum lagi debu jalanan di musim kemarau ini. Semua sepertinya berubah sangat cepat. Kisah indah burung kutilang dan ayam jantan di pagi hari kini benar-benar menjadi dongeng. Burung kutilang yang bernyanyi sekarang berganti dengan berita pagi yang penuh emosi. Kerusuhan, demo dan belum lagi cekokan gosip selebriti. Hah...di mana burung nuri pagi ini, atau di mana burung gereja tidur malam tadi?
      Sepagi ini Han telah terbangun, menyibak asap-asap yang tertinggal diruangan itu. Tersenyum manis melihat beberapa temanya yang masih tidur dilantai, beralaskan permadani merah pekat dengan ukiran bunga-bunga putih. Menuju kamar mandi merupakan pilihan yang terbaik, mengguyur tubuh yang lemas dengan bergayung-gayung air dingin sambil berdendang lagu melayu. Setelah merasa segar kembali, pemuda itu mulai membangunkan teman-temannya yang masih saja terlena dengan mimpi paginya.
      “Hai…kuliah nggak!” katanya pada Arif, yang sedang mendengkur.
      “Jam berapa?” masih dengan nada yang sama, malas.
      “Sudah jam delapan!” cara bicaranya terkesan kalem, tenang dan seakan penuh kedamaian memaksa Arif untuk tersenyum. Setelah Arif, Jack dan Pay dibangunkannya satu persatu, Han melangkah kekamar mandi. Benar-benar pagi yang indah. Beberapa menit setelah itu Pay dan Jack sudah siap berangkat.
       “Han…berangkat dulu ya!” ucap Jack sembari tersenyum simpul.
       “Masuk jam berapa?” tanya Han meyakinkan.
       “Jam sepuluh, cuman sekarang ada tugas motret,” Pay menimpalinya. 
     “Ya…hati-hati, mungkin nanti aku segera menyusul,” sambil melambaikan tangan pada mereka berdua yang sudah berada diatas motor.
       Persahabatan yang indah yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Kini tinggal Arif dan Han yang sedang duduk dikursi ruang tamu. Keduanya berbincang sebelum berangkat ke kampus. 
        “Semalam dapat berapa halaman Han?” Arif membuka obrolan pagi itu.
        “Lumayan dapat dua puluh halaman lebih,” Han tampak mengusap wajah letihnya.
        “Wah…hebat, makan-makan dong!”
     “Iya kalau tembus, kalau tidak? Kamu tau sendirikan kalau penerbit itu nggak mau asal menerbitkan?” Han tersenyum kecil melihat semangat sahabatnya itu.
         “Bukankah ceritamu bagus?” Sahut Arif cepat.
         “Siapa yang menilai? Bagus kalau tidak menjual?” Han memberikan sebuah alasan.
       “Tergantung cara kita saja, bagaimana bisa menarik minat mereka? Menjual atau tidak itu urusan distributor dan marketing!?” sanggah Arif lagi.
         “Ha…ha…jangan berhayal dulu deh!’’Han menepuk bahu sahabatnya itu.
         “Lho kalau tidak dapat uang, ngapain harus menulis?” celetuk Arif dengan pelan sekali lagi.
         “Sebuah kepuasan.” jawab Han singkat.
         “Hanya itu?” tanya Arif lagi.
         “Entahlah…” 
         Suasana hening sesaat.
         “Rokokku mana ya?’’ Arif berdiri sambil mencari-cari rokoknya diatas meja.
         “Habis, beli sana!” Han menyodorkan selembar uang pada Arif.
         “Cuma rokok?”
         “Sama jeruk hangat juga bisa!” Han tersenyum pada sahabatnya yang sudah mendekati pintu.
       Tak lama kemudian Arif telah muncul dengan secangkir kopi dan jeruk hangat. Duduk kembali dikursi itu. Sahabat yang satu ini sungguh mengagumkan, pokoknya keren. Selalu menjadi teman terbaik saat susah dan senang. Mudah menyesuaikan diri dengan  berbagi macam situsi.
        “Sarapan dulu Han?”
    “Bentar lagi, masih belum lapar benar. Lagian situasi krisis seperti ini sebaiknya kita tidak membiasakan diri untuk sarapan pagi. Ha...ha...” Han tertawa kecil.  
       Arif tidak ikut tertawa. Pemuda itu hanya memandang tajam sahabatnya yang masih ngakak. Sesaat suasana menjadi hening. Lalu kepulan asap mulai memenuhi ruangan pagi itu. Ya...begitulah pemuda, rokok lebih utama dari pada sarapan pagi. 
       “Bagaimana dengan pacar barumu?” Arif membuka kebisuan sesaat itu.
       “Pacar baru, yang mana?”
      “Yang kemarin datang kesini!” tersenyum seakan mengejek lawan bicaranya, dan tentunya itu adalah Han yang duduk tidak begitu jauh di sampingnya.
     “Oh…itu bukan pacar baruku, tapi teman baru yang minta tolong,” Han seakan memberi sebuah penjelasan pada sahabatnya.
      “Kamu itu cakep, keren abis, punya bakat, pokoknya semuanya ada padamu,tapi…?” Arif terdiam tidak dilanjutkan ucapannya tadi.
       “Tapi kenapa?” sebuah pertanyaan yang membutuhkan sebuah jawaban segera.
       “Tidak bisa mencari pacar, ha…ha…!” Arif tertawa sekali lagi.
     Mereka berdua tertawa, entah karena bahagia atau sedih atau hanya tawa yang dibuat-buat untuk memecah rasa penat di hati.  
       “Apa kamu punya?” Han balik bertanya pada Arif yang masih terpingkal.
       “Nah…itulah kesalahan kita, kenapa kita tidak berusaha mencari ya?”
       “Memang mudah?” Han balik bertanya.
       “Sepertinya, kita ini tidak terlalu jelek!?” Sebuah  pembelaan yang wajar dan terkesan klasik dan itu membuatnya tertawa lagi.
        “Ha…ha…alasan kuno, apa kamu juga sudah berkaca?”
        "Ha…berkaca? Belum perlu Han! Belum perlu kita untuk berkaca terlalau lama,” Arif mengeluarkan sebuah penyangkalan.
     “ Sebenarnya ada banyak alasan kenapa kita belum mempunyai pacar Rif.” Han menyandarkan tubuhnya ke sofa coklat itu.
        “Apa Han?” Sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
        “Entahlah, itu yang harus kita cari,” sahut Han sekenanya.
        “Apa kita terlalu takut?” Arif memegang kepalanya sendiri.
        “Takut untuk apa?” Han balik bertanya pada sahabatnya yang tampak bingung itu.
        “Ya…untuk berbagi cinta,” sahut Arif pelan.
        “Apa kamu dapat merasakannya dariku?”Han bertanya sekali lagi.
        “Tidak…! Bahkan kamu paling suka mengamati wanita cantikkan?” Arif tersenyum kecil.
        “Berarti kita normal-normal saja?” tanya Han sekali lagi.
       “Sepertinya ya…,” dengan nada yang sedikit ragu, lalu mengambil cangkir kopi dan meneguk cairan hitam itu. 
        Cukup lama mereka terdiam. Mengembara ke masa lalunya masing-masing. 
        “Han…kudengar kamu dulu punya banyak pacar ya?” 
       Arif memandang Han, mengharap sebuah jawaban yang pasti bukan sebuah gurauan. Matanya tajam mengorek-mengorek kedalam hati lawan bicaranya. Memasukkan tangan-tangannya yang kokoh dan berusaha mengeluarkan semua isi dalam otak yang terpendam lama sekali.
         “Kata siapa?”
         “Kata temanmu satu SMU.”
        “Nggak kok, memang ada yang mau sama aku?” Han berusaha membantah perkataan sahabatnya itu.
         “Serius Han!” Arif tampak penasaran.
         “Kalau iya kenapa, kalau tidak kenapa?” Han mengajukan pertanyaan tuntutan.
      “Ya…sekedar buat nambah ilmu,” Arif menjuhut gelas berisi kopi di hadapannya. Dia seakan benar-benar mengharapkan jawabannya adalah ‘iya’.
          “Iya…tapi itu dulu,” sahut Han pelan sambil menunduk.
          “Berapa lama?”
         “Tiga tahun lalu,” Han seakan mengingat masa itu.
      “Pacarmu banyak?” Arif mengatur posisinya, mengharapkan sebuah cerita yang seakan sangat menarik baginya.
         “Kalau aku cerita apa kamu percaya?”
         “Percaya, aku tau kamu bukan seorang pembohong,” Arif tersenyum kecil.
         “Dari mana kamu tau?” Han berusaha meyakinkan hatinya.
       “Kita tinggal satu rumah tidak sebentar, lagian kamu orangnya tertutup dan pasti punya banyak cerita yang hanya kamu simpan sendiri!” Arif memberikan sebuah argumen tasi.
      Sebelum memulai ceritanya, Han mengangguk-anggukan kepala. Menikmati jeruk hangat yang sudah mulai dingin, menikmati kepulan asap penat dari batang rokok yang sedari tadi tetap dipegang erat.
       “Sebenarnya tidak banyak.”  Matanya menerawang jauh, tidak memperhatikan lawan bicaranya yang tentunya sudah menunggu lama bagaimana cerita selanjutnya. 
         “Berapa?”
         “Saat itu yang benar-benar bareng hanya tiga orang,” Han menghentikan ucapannya.
         “Tiga orang?” Arif sekan terperangah dengan jawaban itu.
         “Iya, memang kenapa?” Han melihat kearah Arif yang seakan tidak percaya.
       “Hebat…, gumannya pelan. “Terus?” Sambil menepuk pundak pemuda disampingnya. Lagi-lagi Arif seakan kagum dengan apa yang baru saja  didengarnya.
         “Ya…biasa saja,” jawab Han lirih.
         “Biasa?”
         “Iya,” jelasnya sekali lagi.
         “Aku serius Han!”
        “Aku juga serius, memang biasa saja, jalan-jalan, makan, ketempat hiburan, keluar kota, menginap di hotel, bercanda, bertengkar, ya…cuma itu-itu saja.”
         “Semuanya?”
         “Yang pasti tidak dalam waktu yang bersamaan,” Han tersenyum sekali lagi.
         “Lalu sekarang?”
         “Sudah putus semua,” Han tersenyum kecut sesaat kemudian.
         “Kenapa?” tanya Arif antusias.
        “Yang satu sudah menikah dan punya anak, yang satu kuliah, yang satu lagi akan segera menikah.”
        “Dari ketiganya, apa kamu mempunyai perasaan yang berbeda?”
        “Tidak, semuanya sama.”
        “Sama bagaimana?”
       “Aku sama-sama mencintai mereka, sehari saja aku tidak melihatnya serpertinya sudah setahun.”  Arif hanya diam sambil melihat Han yang seakan menerawang jauh mengingat semua. “Lalu, bagaimana kalian bisa putus?” lanjutnya pelan.
        “Mereka meninggalkan aku begitu saja,” Han menunduk pelan mengingat semuanya.
        “Kenapa?” ucap Arif singkat.
       “Mungkin aku bukan lelaki yang baik, lagian aku juga bukan orang kaya. Cinta itutidak jauh berbeda dengan Ice Cream Rif! Nikmatnya ketika baru diambil dari mesin pendingin. Kalau sudah lumer ya rasanya bikin gimana gituh!?”
       Arif diam sebentar, berusaha memahami kata-kata sahabatnya sedetik yang lalu.
       “Eh…apa yang kalian lakukan saat dikamar hotel?” Arif terlihat sedikit malu-malu.
       “Biasa,” sahut Han singkat. 
       “Ayolah ceritakan!”
       “Paling makan-makan, duduk dilobi kamar, nonton film drama roman, mandi bareng, lalu tidur.”
       “Apa mereka mau diajak gituan?”
       “Gituan apa?” Han pura-pura tidak tau.
       “Ya…gitu deh!”
       “Tergantung, kadang mau kadang juga tidak.”
      Arif manggut-manggut tanda sependapat atau barang kali tanda kalau dia sudah mengerti dan puas  dengan cerita yang singkat itu, “saat kalian putus apa kamu sedih?” tanya Arif sekali lagi.
       “Iya…bahkan aku hampir bunuh diri,” jawab Han singkat. 
       “Serius?” Arif tampak tidak yakin dengan jawaban itu.
     “Iya. Tapi apa kamu percaya dengan ceritaku?” Han balik bertanya untuk kesekian kalinya. Han hanya tersenyum melihat Arif yang menerawang jauh tidak menjawab pertanyaannya.
       “Kamu, pernah pacaran?” Kini Han yang mengeluarkan pertanyaan itu.
       “Dulu, tapi nggak lama,” sahut Arif pelan.
       “Kenapa?”
       “Aku tidak suka diatur-atur,” sahut Arif yakin.
       “Berapa kali?”
       “Cuma sekali, setelah itu aku sepertinya takut sama cewek.”
      Sudah hampir habis kopi dan jeruk hangat itu. Han dan Arif masih sama-sama terdiam berkelana jauh mengejar kisah yang mungkin meninggalkan mereka.
       “Han…kenapa kamu sekarang tidak mencari pacar lagi?”
    “Aku juga tidak tau, mungkin aku trauma  atau barang kali memang nggak ada yang mau! Ha…ha…,” sebuah tawa yang dipaksakan.
       “Apa Jack dan Pay punya pacar ya… Han?”
       “Sepertinya belum, kamu bisa lihatkan?”
       “Apanya?” Arif tampak bingung dengan jawaban itu.
      "Ya…kelakuan mereka, sama-sama bloon seperti kita dan hanya berani tersenyum bila melihat wanita cantik atau  sekedar bersiul malu-malu,” Han tersenyum mengingat sahabat-sahabatnya itu.
        “Ayo kita makan dulu, ngomongin itu pasti tidak ada habisnya. ”
      Arif beranjak dari kursi itu dan Han hanya mengikutinya, melangkah menuju warung di belakang rumah. 
       Angin pagi tidak lagi dingin, kini telah bercampur dengan debu-debu jalanan dan deru mobil-mobil mewah. Matahari telah naik sepenggalah, memancarkan sinar panasnya yang menusuk kedalam hati. Mungkin juga menusuk ke dalam tulang-tulang kedua remaja itu. Memaksa mereka untuk berjalan lebih cepat dan sedikit menahan nafas. Duniaku, duniamu atau dunia siapa saja yang hendak berpijak di tanah ini seakan semakin pengap saja. Melangkah dengan hati-hati di balik hisapan asap rokok yang bercampur debu. Debu yang seakan bercampur keringat di pagi ini. Semua masih belum menemukan apa-apa,
hanya kegelisahan untuk mencari tau apa yang di carinya.
       Begitu juga dengan kedua sahabat itu, yang mereka cari belum juga di temukan. Apakah kebahagian akan bisa menjadi senyum untuk selamanya. Apakah mereka mampu bertahan di dunia yang semakin pengap dan penuh dengan penipuan dan rayuan busuk antar sesama. Belum lagi alam yang semakin tidak bersahabat. Belum lagi ekonomi yang semakin mencekik. Apakah tidak ada hak untuk selalu tertawa? Apakah ice cream akan selalu menjadi menu santapan senggang orang-orang-orang kaya?

{ 0 komentar... read them below or add one }